Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Friday, 11 January 2013

Di balik Subliminal Message


Kekuatan Halus Pesan Tersembunyi
Oleh: Wolfgang Stroebe
(Sumber: Scientific American Mind, Mei-Juni 2012, hal. 46-51)
Bisakah iklan subliminal mempengaruhi perilaku kita? Riset baru menyatakan ya—tapi hanya di bawah kondisi tertentu.
Kelahiran iklan subliminal hampir seperti naskah acara televisi. Dalam kisah nyata ini, sorotan jatuh kepada James M. Vicary, periset independen bidang pemasaran.
Pada 12 September 1957, Vicary mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan hasil eksperimen tak biasa. Selama enam minggu di musim panas yang telah lewat, dia mengatur agar slogan-slogan—rincinya, “Makanlah popcorn” dan “Minumlah Coca-Cola”—disorotkan selama tiga milidetik, setiap lima detik, ke layar biskop di Fort Lee, New Jersey, selagi pemirsa menontonPicnic. Vicary berargumen bahwa pesan-pesan ini terlalu cepat untuk dibaca oleh penonton tapi cukup mencolok bagi mereka untuk mendaftar maknanya secara bawah sadar. Sebagai bukti, dia menyajikan data yang mengindikasikan bahwa pesan itu telah meningkatkan penjualan soda di bioskop sebanyak 18% dan popcorn sebanyak 58%.
FAKTA CEPAT
Konsumen Sadar
  1. Selama berdekade-dekade, publik telah mencemaskan iklan subliminal, menganggapnya mirip dengan cuci otak. Namun, ilmuwan memandangnya sebagai mitos.
  2. Eksperimen-eksperimen mutakhir mendemosntrasikan bahwa pesan subliminal yang disorotkan ke layar atau monitor komputer dapat mempengaruhi keputusan kita hanya jika kita terbuka terhadap persuasi lantaran kebutuhan tertentu, misalnya haus.
  3. Terlepas dari kecemasan dimanipulasi, lingkungan sekeliling kita mengerahkan pengaruh tak sadar terhadap keputusan kita sehari-hari. Contoh, bau daging panggang bisa membuat kita merasa lapar, dan musik di supermarket bisa mengarahkan kita ke barang tertentu.
Publik bereaksi dengan geram. Temuan Vicary persis selaras dengan kecemasan masyarakat kala itu, ketika Madison Avenue dapat memanipulasi konsumen seperti boneka tak berpikiran. Ide bahwa iklan bisa disiarkan secara subliminal, di bawah ambang kesadaran, terasa mirip dengan cuci otak. Pada 5 Oktober 1957, sekitar tiga minggu setelah acara Vicary, Norman Cousins, kepala editor Saturday Review, menulis artikel berjudul Smudging the Subconscious, di mana dia mencerca kampanye iklan yang dirancang untuk “menyusup ke dalam bagian-bagian pikiran manusia yang paling dalam dan paling pribadi dan meninggalkan segala macam tanda goresan.” Central Intelligence Agency segera menerbitkan laporan mengenai potensi operasional persepsi subliminal. Buku Vance Packard, The Hidden Persuaders, yang menguraikan klaim-klaim Vicary secara detil, menjadi bestseller dalam semalam. Begitu tekanan publik menggunung, sebagai respon, Inggris, Australia, dan National Association of Broadcasters di Amerika melarang penayangan iklan subliminal yang tak terlihat.
Namun mendadak ada ketidakberesan. Periset mencoba meniru temuan Vicary selama masa itu, tapi tak ada yang berhasil. Setelah lima tahun, Vicary mengaku bahwa eksperimennya merupakan “muslihat”. Pengakuannya kurang menarik perhatian dibanding pertunjukan publisitas awal. Banyak orang di AS dan Eropa terus percaya bahwa iklan subliminal bisa membentuk pilihan konsumen meski semua bukti menyanggahnya.
Tapi belakangan ini psikolog mulai menemukan bahwa pesan subliminal terkadang bisa mengalihkan keputusan kita, tapi bukan dengan cara yang dikemukakan oleh Vicary. Pesan subliminal tidak bisa menginterupsi maksud kita atau menyita kehendak kita. Sebaliknya, rupanya kita hanya dapat terkena sugesti amat singkat ini di bawah kondisi khusus dan terbatas. Karena isyarat bawah sadar ini mencoreng memori kita begitu cepat sewaktu tayang di layar, ia tidak mempunyai kekuatan kecuali jika kebetulan berhubungan dengan tujuan dekat kita atau kecenderungan alami kita.

Reaksi dan gniksamkcaB
Pada dekade-dekade setelah eksperimen Vicary, para pemasar, politisi, sutradara, dan bahkan lembaga penegak hukum mencoba memanfaatkan kemampuan persuasi subliminal tanpa keberhasilan yang berarti. Taktik penayangan mereka tipikalnya mengikuti jejak Vicary, menyisipkan kilasan perkataan atau gambar berdurasi beberapa milidetik dalam klip video lain. Contoh, pada 1978, stasiun TV Wichita Kan mendapat izin dari kepolisian untuk memperlihatkan kilasan kalimat “Nah panggil kepala” pada saat liputan mengenai pembunuh berantai “BTK”, dengan harapan dia akan terpaksa menyerah. Sayangnya, orang yang mereka buru, Dennis Rader, menghindarkan diri dari penangkapan sampai tahun 2005.
Pada 2000, pesan subliminal memasuki persaingan pemilu presiden AS. Sebuah iklan kampanye partai Republik menyambung-nyambung kata “rats” menjadi sebuah segmen tentang kandidat partai Demokrat, Al Gore. Walaupun “rats” merupakan bagian dari baris “bureaucrats decide” yang terlihat jelas, empat huruf yang kurang menyanjung ini muncul di layar 30 milidetik sebelum bagian lainnya. Kandidat partai Republik, George W. Bush, menyatakan itu adalah kebetulan, tapi rekan-rekan televisi cepat-cepat menarik iklan komersial tersebut dari gelombang udara.
Kampanye kontroversial lain melibatkan backmasking, atau backward masking—sebuah teknik di mana teknisi audio merekam perkataan secara terbalik ke dalam pita rekam. Para penganjur mengklaim bahwa pesan terbalik beraksi secara subliminal terhadap pendengar. Pada 1980-an, kelompok-kelompok agama di AS cemas bahwa beberapa band rock menggunakanbackmasking untuk menyampaikan ajaran setan. Dua pasang orangtua menggugat musisi Inggris Ozzy Osbourne, menyatakan bahwa frase-frase yang di-backmask dalam lagu-lagunya telah mendorong anak-anak mereka melakukan bunuh diri. Pengadilan menolak perkara ini—sebagaimana terhadap gugatan serupa yang dilayangkan pada band rock Judas Priest—karena mereka tak menemukan cukup bukti bahwa backmasking bekerja. Periset berulangkali mendemonstrasikan bahwa backmasking tak meninggalkan jejak berarti dalam memori. Meski begitu, kegemparan ini membawa pada pembakaran riwayat publik, dan pada 1983 California melarang praktek ini.
GEORGE W. BUSH DAN OZZY OSBOURNE: Kedua orang ini dituduh menggunakan pesan tersembunyi. Kampanye pemilu presiden Bush tahun 2000 memutar iklan tentang Al Gore yang secara subliminal menayangkan kata “rats” (kiri). Para orangtua tak berhasil menggugat Osbourne (kanan), menyatakan musiknya mengandung track rahasia yang di-backmask yang telah mendorong anak-anak mereka melakukan bunuh diri.
Juga selama tahun 1980-an berkembang perdagangan pita kaset berisi tip bantuan diri yang mengklaim mempergunakan pesan yang bisa dimengerti secara subliminal, yang direkam ke arah yang benar. Tapi, pada 1991, Anthony G. Greenwald dari Universitas Washington bersama koleganya membuktikan bahwa rekaman ini juga tak efektif. Greenwald dan timnya memberikan kaset musik klasik, kepada 237 peserta ujicoba, yang memuat tip-tip subliminal untuk meningkatkan kepercayaan diri atau ingatan mereka. Tanpa sepengetahuan partisipan, yang mendengarkan pita kaset itu setiap hari selama lima minggu, separuh dari kaset-kaset itu sengaja diberi label salah. Periset menemukan bahwa kaset-kaset itu tak berefek terhadap kepercayaan diri ataupun ingatan. Namun, partisipan memperoleh pengalaman lain: mereka yang percaya bahwa kasetnya dapat meningkatkan kepercayaan diri merasakan peningkatan, begitu pula dengan pendengar yang mengharapkan penambahan ingatan.
Bagi banyak ilmuwan, eksperimen ini menutup buku mengenai pesan subliminal. Pada 1992, Anthony R. Pratkanis, seorang psikolog di Universitas California, Santa Cruz, dan salah seorang periset studi kaset, menulis bahwa keyakinan pada kemanjuran persuasi subliminal menjadi contoh sains yang oleh Richard Feynman disebut sebagai cargo-cult science (sains pemujaan kargo), mengacu pada fenomena di mana masyarakat kesukuan menjumpai “kargo” dari sebuah peradaban berteknologi maju lalu merancang ritual tentangnya. Menurut definisi Feynman, diberikan sebagai bagian dari pidato permulaan di California Institute of Technology pada 1974, sains pemujaan kargo rupanya memiliki segala hiasan sains riil—objektivitas dan eksperimen cermat—tapi melewatkan sesuatu yang fundamental: praktisinya kurang skeptisisme. Sepanjang tahun 1990-an, pesan subliminal sebagai bidang riset jatuh membisu, diturunkan ke alam refleksiologi, ESP (extrasensory perception), dan disiplin meragukan lainnya.
Tapi selama dekade yang lalu, psikolog mendapat minat terbarukan terhadap topik tersebut, dan penelitian mereka telah membuahkan beberapa hasil menggairahkan. Pada 2001, Ap Dijksterhuis dari Universitas Radboud Nijmegen di Belanda, kala itu bekerjasama dengan kolega di Universitas Amsterdam, memberikan uji atensi terkomputerisasi (computerized attention test) kepada mahasiswa. Selama uji itu, dia menyorotkan suku-suku kata omong-kosong atau “cola” dan minuman” ke layar. Sesudah itu, dia bertanya kepada partisipan apakah mereka ingin cola atau air mineral. Peserta yang menonton pesan-pesan subliminal tersebut lebih mungkin meminta minuman. Namun mereka tidak lebih sering meminta cola. Setahun kemudian, Joel dan Grant Cooper dari Universitas Princeton meniru temuan ini, menanam sugesti subliminal—kata “haus” dan gambar kaleng cola—ke dalam sebuah episode The Simpsons. Lagi, orang-orang yang mendapat pesan subliminal merasa kering/haus dibandingkan mereka yang menonton acara asli.

Meminum Kool-Aid
Untuk memahami mengapa partisipan yang diberi isyarat subliminal dalam studi-studi ini merasa lebih haus tapi belum tentu lebih cenderung minum cola, pikirkan apa yang terjadi ketika Anda memasuki minimarket untuk mencari minuman. Pertama-tama Anda pasti bisa memperoleh nama sebuah minuman dari ingatan Anda. Kemungkinannya Anda akan memilih merek apapun yang paling cepat terlintas di benak Anda. Jika Anda selalu minum Coca-Cola, Anda barangkali tidak mempan terhadap sugesti subliminal apapun untuk membeli merek lain. Namun, jika terkadang Anda meminum teh es Lipton, pesan yang Anda rasakan di bawah ambang kesadaran mungkin mempengaruhi pilihan Anda, menjadikan nama merek ini lebih dapat diakses dalam memori Anda setidaknya secara temporer.
LIHAT TEMPAT INI, BELI MEREK INI: Studi-studi mutakhir mengindikasikan bahwa pesan subliminal terkadang dapat merobohkan keputusan kita dengan suatu cara, tapi tidak dengan cara yang sudah lama dicemaskan masyarakat. Pesan-pesan cepat ini memiliki jendela pengaruh sesaat.
Kami memutuskan untuk menguji teori bahwa Coca-Cola sebagai nama merek terlalu tertanam dalam memori sebagian besar orang sehingga stimulus subliminal tidak berefek apapun terhadap mereka. Bekerjasama dengan Jasper Claus di Universitas Utrecth, John Karremans dari Radboud, dan saya menjalankan studi awal pada 2006 di mana kami meminta sukarelawan melakukan tugas atensi terkomputerisasi. Kami berulangkali membombardir separuh partisipan dengan kilasan kata-kata “Lipton Ice”, sebuah merek teh es, berdurasi 23 milidetik. Berdasarkan quesioner, kami menetapkan bahwa Lipton Ice cocok dengan tujuan kami: ini merupakan pemuas dahaga yang bagus tapi bukan pilihan pertama kebanyakan orang. Separuh partisipan lainnya melihat kilasan suku-suku kata omong-kosong berdurasi 23 milidetik. Setelah ujicoba, partisipan harus memilih minuman, Lipton Ice atau air mineral. Sesuai dugaan, kelompok pertisipan Lipton Ice memilih merek ini jauh lebih sering daripada kelompok pembanding [yang tidak diberi pesan subliminal]. Lagi, sebagaimana dalam studi di atas, hanya partisipan haus yang bereaksi seperti ini. Merek minuman manapun yang terdepan dalam pikiran Anda tidaklah penting, kecuali kalau Anda haus.
Dalam studi kedua, kami memberi butiran garam kepada separuh sukarelawan dengan harapan mereka haus sebelum kami menunjuki mereka iklan subliminal. Dalam skenario ini, lebih dari 80% peserta yang haus—dan sekitar separuh dari peserta yang menyatakan tidak haus—memilih Lipton Ice. Tanpa pesan subliminal, hanya 30% dari peserta yang haus dan 20% dari peserta yang tak haus memilih teh es tersebut. Pada 2011, bekerjasama dengan kolega kami, Thijs Verwijmeren dan DaniĆ«l Wigboldus, saya dan Karremans menyempurnakan temuan ini dan mendemonstrasikan bahwa pemberitahuan subliminal hanya bekerja pada peserta yang haus yang menyukai teh es Lipton tapi tidak rutin meminumnya. Kita tak dapat mempengaruhi orang-orang yang mengatakan bahwa teh es Lipton merupakan minuman favorit mereka. Temuan ini mungkin setidaknya menjelaskan sebagian mengapa penyelidikan terdahulu, yang umumnya menggunakan Coca-Cola, gagal mendemonstrasikan efek subliminal terhadap pilihan merek. Selama berdekade-dekade, Coca-Cola telah menjadi minuman favorit di kalangan mahasiswa, yang umumnya menjadi peserta ujicoba para periset. Juga, studi-studi ini tidak memperhitungkan berbagai tingkat kehausan.
Periset lain telah mengamati kelemahan serupa pada persuasi subliminal di kalangan individu yang lelah, bukan haus. Pada 2009, Christina Bermeitinger dari Universitas Hildesheim di Jerman, kala itu bekerja di Universitas Saarland, bersama kolega di Universitas Western Australia, memberitahu partisipan bahwa dia dan yang lainnya berencana meneliti efek pil dekstrosa terhadap konsentrasi. Mereka merancang dua merek pil palsu dan mendesain logonya, masing-masing mereka sajikan secara subliminal kepada separuh partisipan selagi bermain game komputer. Sewaktu istirahat, partisipan disodori pil dekstrosa yang dilabeli nama merek palsu. Akhirnya, semakin lelah partisipan, semakin mereka tertarik kepada merek yang sudah disorotkan secara subliminal ke layar.
HAUS BAWAH SADAR: Ketika peserta ujicoba menyaksikan iklan subliminal Lipton Ice, kebanyakan mereka memilih minum teh merek ini daripada air. Efeknya paling nyata di antara partisipan yang haus—pikiran bawah sadar mereka memperhatikan isyarat subliminal.
Dari investigasi ini, jelaslah bahwa kerentanan individu terhadap sugesti subliminal tergantung pada sejumlah variabel, meliputi kebutuhan dan kebiasaan fisiknya. Efek terkait, reaksi subliminal, juga dapat dipicu di bawah kondisi tertentu. Kami memperlihatkan efek ini dalam studi teranyar di mana kami memproyeksikan kata-kata “Lipton Ice” secara subliminal selama penayangan dua klip film: sekuens lucu dari film animasi Madagascar dan adegan menggelisahkan dari film tentang pecandu heroin, Trainspotting. Setelah pemutaran klip, kami menyodorkan Lipton Ice atau air mineral kepada partisipan. Dibandingkan dengan kelompok pembanding, yang tidak diberi pesan subliminal, mereka yang melihat merek [Lipton] tersisip dalamMadagascar lebih menginginkan Lipton Ice. Namun mereka yang menontonTrainspotting kurang sering memilihnya. Sekali lagi, pesan subliminal mempengaruhi peserta haus saja.

Cuci Otak di Supermarket
Ide iklan subliminal masih menakutkan banyak orang. Riset di bidang ini masih agak tabu, dan pendanaannya langka.
 Programming the Nation, sebuah film dokumenter yang dirilis pada Oktober 2011, secara sensasional bertanya, “Apakah kita semua dicuci otak? Atau sudahkah kita kehilangan pikiran kita?” Tingkat ketakutan semacam itu tidak berdasar. Sudah pasti tak ada yang mau dimanipulasi, tapi faktanya sekeliling kita mewarnai pilihan kita sepanjang waktu, tanpa kita sadari. Aroma kopi yang keluar dari toko roti bisa membuat kita sangat mengharapkan espreso; wangi daging panggang dari restoran bisa membuat perut kita berbunyi. Riset kami hingga hari ini mengindikasikan bahwa pesan subliminal mempengaruhi perilaku kita dengan cara yang sama seperti isyarat lingkungan. Partisipan haus lebih reseptif terhadap isyarat subliminal tentang minuman persis sebagaimana pembelanja lapar lebih mungkin untuk memenuhi keranjang belanjanya di supermarket.
Untuk menguji potensi pembujuk tersembunyi ini dalam kehidupan sehari-hari, pada 2005 Rob Holland dan koleganya di Radboud merancang eksperimen cerdik. Tim meminta 56 mahasiswa membuat daftar lima aktivitas yang ingin mereka lakukan selama beberapa hari ke depan. Separuh partisipan mencium aroma sitrus dari pembersih serbaguna di lab, sedangkan separuh lainnya bekerja di ruangan bebas wangi. Kelompok pertama tidak melaporkan mencium bau [busuk] apapun. Meski begitu, 36% dari mereka menulis bahwa mereka berencana membersihkan apartemen mereka. Sebagai perbandingan, hanya 11% dari partisipan yang bekerja di ruangan bebas bau mempertimbangkan bersih-bersih. Holland dan koleganya menyimpulkan bahwa wangi sitrus telah meningkatkan aksesibilitas kognitif tujuan bersih-bersih. Namun, mereka tidak menemukan berapa banyak dari calon tukang bersih-bersih tersebut menyelesaikan tugasnya. Maksud baik itu mungkin saja menghilang dari lubang ingatan segera setelah persoalan lain yang lebih urgen—seperti belajar untuk ujian—tampil ke depan.
LATAR CUCI OTAK: Pesan subliminal mempengaruhi kita dengan cara yang sama seperti isyarat lingkungan: bau dari kafe dapat membuat kita merasa lapar, aroma sitrus dapat memicu pikiran tentang bersih-bersih, bahkan musik dapat mempengaruhi apa yang kita beli di toko.



Memang, isyarat semacam itu tidak bertahan lama dalam memori kita. Pemicu lingkungan tampaknya paling manjur dalam skenario-skenario di mana kita dapat beraksi terhadap mereka secara cepat, sebuah fakta yang menjadikannya berguna dalam setting komersial tertentu. Ketika department store memainkan musik Natal, itu dimaksudkan untuk menempatkan kita dalam mood memberi hadiah, sehingga meningkatkan penjualan. Pada 1993, ekonom Charles Areni dan David Kim dari Texas Technical University mengungkap cara lain di mana musik bisa mengubah perilaku. Selama beberapa minggu di sebuah toko wine, mereka memainkan berbagai musik, menggonta-ganti antara lagu klasik, seperti The Four Season-nya Antonio Vivaldi, dan lagu pop, meliputi lagu karya Fleetwood Mac. Mereka menemukan bahwa pilihan musik tidak ada sangkut-pautnya dengan jumlah total botol yang terjual. Namun, pembeli yang mendengarkan pilihan klasik membeli wine yang lebih mahal daripada yang mendengarkan musik pop.
Kebiasaan berbelanja para langganan restoran juga tampak bervariasi dalam respon terhadap isyarat musik. Adrian North, kala itu di Universitas Leicester di Inggris, dan koleganya menghabiskan tiga minggu menggonta-ganti musik di sebuah ruang makan restoran, mulai dari musik klasik hingga pop, sampai tanpa musik sama sekali. Ketika lagu latarnya klasik, tamu berbelanja rata-rata $45. Jika dibandingkan, mereka berbelanja $40 ketika mendengarkan musik pop dan hanya $39 ketika tak ada musik sama sekali.
Dalam beberapa kasus, musik latar bahkan bisa mempengaruhi tipe produk yang dipilih pembeli. Dalam eksperimen lain, North dan koleganya menaruh empat wine Jerman atau Prancis, sama-sama dilabeli harga, di etalase di sebuah supermarket Inggris. Pada beberapa hari, supermarket ini memainkan lagu band brass Jerman, pada hari-hari lain memainkan musik akordeon Prancis. Ketika kemudian diwawancara, sangat sedikit pembelanja bisa mengatakan apakah mereka mendengar alunan musik. Tapi para pembeli yang mendengar lagu Prancis lebih sering memilih wine Prancis dan sebaliknya.
Kami punya semua alasan untuk percaya bahwa, persis seperti musik dalam contoh-contoh ini, iklan subliminal bisa dipakai secara sukses dalam situasi sehari-hari. Namun untuk memperoleh efek sungguhan, slogan-slogan subliminal harus pendek, disampaikan menjelang momen [pengambilan] keputusan, dan berhubungan dengan maksud atau kebiasaan seseorang. Berdasarkan batasan demikian, kecil kemungkinannya iklan-iklan subliminal televisi dapat memaksa konsumen berhari-hari kemudian untuk membeli suatu merek dalam perjalanan belanja mingguan.
Penelitian kami mengungkap bahwa, prakteknya, pesan subliminal jauh kurang manjur atau menakutkan daripada yang kita yakini dahulu. Ini bahkan bisa digunakan untuk kebaikan. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa paparan kata-kata “marah” atau “santai” selama beberapa milidetik dapat memberi efek nyata, jika sesaat, terhadap detak jantung dan tekanan darah seseorang. Pikiran bawah sadar kita mendaftarkan berbagai jenis sugesti, bukan cuma [sugesti] yang dikehendaki para pengiklan.
Penulis
Wolfgang Stroebe adalah profesor psikologi sosial di Universitas Utrecht dan Universitas Groningen, Belanda.

Bacaan Lebih Lanjut:
  • On the Psychology of Drinking: Being Thirsty and Perceptually Ready. Henk Aarts, Ap Dijksterhuis, dan Peter De Vries dalam British Journal of Psychology, Vol. 92, hal. 631-642, 2001.
  • Beyond Vicary’s Fantasies: The Impact of Subliminal Priming and Brand Choice. Johan C. Karremans, Wolfgang Stroebe, dan Jasper Claus dalam Journal of Experimental Social Psychology, Vol. 42, No. 6, hal 792-798, November 2006.
  • The Hidden Persuaders Break into the Tired Brain. Christina Bermeitinger, Ruben Goelz, Nadine Johr, Manfred Neumann, Ullrich K.H. Ecker, dan Robert Doerr dalam Journal of Experimental Social Psychology, Vol. 45, No. 2, hal. 320-326, 2009.
  • The Workings and Limits of Subliminal Advertising: The Role of Habits. Thijs Verwijmeren, Johan C. Karremans, Wolfgang Stroebe, dan DaniĆ«l H.J. Wigboldus dalam Journal of Consumer Psychology, Vol. 21, No. 2, hal 206-213, April 2011.
Sumber : unseenhands.wordpress.com

Monday, 24 September 2012

Sejarah Islam Nusantara


Sejarah Islam Nusantara



Muslim Indonesia punya sejarah luar biasa. Sahabat Rasulullah, pernah pula langsung
berdakwah di Nusantara.

Melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia bukanlah urusan mudah. Tak banyak jejak yang bisa dilacak. Ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukan untuk menelusuri kedatangan Islam di Indonesia. Beberapa pertanyaan itu adalah, darimana Islam datang? Siapa yang membawanya dan kapan kedatangannya?

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.

Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck Hurgronje yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.

Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.


Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia dating langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.

Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampunganperkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul  Mukminin.

Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.

Biasanya, para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus  enjelajah sampai di Timur Jauh, termasuk Indonesia. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16.



Hal ini juga bisa dilacak dari catatan para peziarah Budha Cina yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 untuk pergi ke India. Bahkan pada era yang lebih belakangan, pengembara Arab yang masyhur, Ibnu Bathutah mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara. Tapi sayangnya, tak dijelaskan dalam catatan Ibnu Bathutah daerah-daerah mana saja yang pernah ia kunjungi.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.

Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.

Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatic antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 hijriah atau 718 masehi.

Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya Dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.

Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Dan  hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.

Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.

Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.

Masih banyak perdebatan memang, tentang hal ini. Tapi apapun, pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan. Pada periode ini pula hubungan antara Aceh dan kilafah Islam di Arab kian erat.

Selain pada pedagang, sebetulnya Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang dan mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, di Makkah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16. Bahkan pada tahun 974 hijriah atau 1566 masehi dilaporkan, ada lima kapal dari Kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah.

Ukhuwah yang erat antara Aceh dan kekhalifahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa Khalifah Utsmaniyah. Tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Utsmani membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674  sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah.

Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon. Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.

Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, saking besarnya pengaruh kekuatan agama yang dihasilkan Giri, Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kerajaan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.

Meski kerajaan dan kekuatan baru Islam tumbuh, Giri tetap memainkan peranannya tersendiri. Sampai ketika Mataram dianggap sudah tak lagi menjalankan ajaran-ajaran Islam pada pemerintahan Sultan Agung, Giri pun mengambil sikap dan keputusan. Giri mendukung kekuatan Bupati Surabaya untuk melakukan pemberontakan pada Mataram. Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajah Belanda, kerajaan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang salah satunya mengupas makna dan semangat jihad telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Indonesia melawan penjajah. Tak hanya di Jawa dan Sumatera, tapi di seluruh wilayah Nusantara.

Muslim Indonesia mengantongi sejarah yang panjang dan besar. Sejarah itu pula yang mengantar kita saat ini menjadi sebuah negeri Muslim terbesar di dunia. Sebuah sejarah gemilang yang pernah diukir para pendahulu, tak selayaknya tenggelam begitu saja. Kembalikan izzah Muslim Indonesia sebagai Muslim pejuang. Tegakkan kembali kebanggaan Muslim Indonesia sebagai Muslim bijak, dalam dan sabar.

Kita adalah rangkaian mata rantai dari generasi-generasi tangguh dan tahan uji. Maka sekali lagi, tekanan dari luar, pengkhianatan dari dalam, dan kesepian dalam berjuang tak seharusnya membuat kita lemah. Karena kita adalah orang-orang dengan sejarah besar. Karena kita mempunyai tugas mengembalikan sejarah yang besar. Wallahu a’lam.n (Oleh Herry Nurdi/Sabili)

Sunday, 9 September 2012

Pengakuan Negara Lain Atas Indonesia




Belanda akhirnya mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945 sesuai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan tanggal 27 Desember 1949 saat soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.
Pengakuan ini baru dilakukan pada 16 Agustus 2005, sehari sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu. Pada kesempatan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menlu Hassan Wirajuda. Keesokan harinya, Bot juga menghadiri Upacara Kenegaraan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta. Langkah Bot ini mendobrak tabu dan merupakan yang pertama kali dalam sejarah.
Pada 4 September 2008, juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende, menghadiri Peringatan HUT Kemerdekaan RI. Balkenende menghadiri resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-63 yang digelar oleh KBRI Belanda di Wisma Duta, Den Haag. Kehadirannya didampingi oleh para menteri utama Kabinet Balkenende IV, antara lain Menteri Luar Negeri Maxime Jacques Marcel Verhagen, Menteri Hukum Ernst Hirsch Ballin, Menteri Pertahanan Eimert van Middelkoop, dan para pejabat tinggi kementerian luar negeri, parlemen, serta para mantan Duta Besar Belanda untuk Indonesia.
Selama hampir 60 tahun, Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (agresi militer) pada 1945-1949 adalah ilegal.
Sebelumnya, pada tahun 1995, Ratu Beatrix sempat ingin menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-50. Tapi keinginan ini ditentang PM Wim Kok. Akhirnya Beatrix terpaksa mampir di Singapura dan baru memasuki Indonesia beberapa hari setelah peringatan proklamasi.





Pernyataan Pemerintah Belanda di Den Haag


Teks proklamasi republik indonesia (gambar teks diatas adalah fotokopi) yang ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta.

Menlu Ben Bot menegaskan, kehadirannya pada upacara Hari Ulang Tahun RI ke-60 dapat dilihat sebagai penerimaan politik dan moral bahwa Indonesia merdeka pada 17-8-1945. Atas nama Belanda, ia juga meminta maaf.

Menlu Belanda Bernard Bot menyampaikan hal itu dalam upacara peringatan berakhirnya pendudukan Jepang di Hindia Belanda, hari Senin 15 Agustus 2005 di kompleks Monumen Hindia, Den Haag. Pernyataan Bot itu juga disaksikan Ratu Beatrix, yang hadir meletakkan karangan bunga.

Bot secara eksplisit mengungkapkan bahwa sikap dan langkahnya tersebut telah mendapat dukungan kabinet. "Saya dengan dukungan kabinet akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia de facto telah dimulai 17-8-1945 dan bahwa kita 60 tahun setelah itu, dalam pengertian politik dan moral, telah menerima dengan lapang dada," demikian Bot.

Pengakuan secara resmi soal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 selama ini sulit diterima para veteran, sebab mereka ketika itu setelah tanggal tersebut dikerahkan untuk melakukan Agresi Militer. Baru kemudian pada 27 Desember 1949 penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secara resmi diteken.

Menurut menteri yang lahir pada 21 November 1937 di Batavia (kini Jakarta), itu sikap menerima tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 dalam pengertian moral juga berarti bahwa dirinya ikut mendukung ungkapan penyesalan mengenai perpisahan Indonesia-Belanda yang menyakitkan dan penuh kekerasan. "Hampir 6.000 militer Belanda gugur dalam pertempuran, banyak yang cacat atau menjadi korban trauma psikologis. Akibat pengerahan militer skala besar-besaran, negeri kita juga sepertinya berdiri pada sisi sejarah yang salah. Ini sungguh kurang mengenakkan bagi pihak-pihak yang terlibat," tandas Bot.

Doktor hukum lulusan Harvard Law School itu melukiskan berlikunya pengakuan seputar tanggal kemerdekaan dan hubungan Belanda-Indonesia itu seperti orang mendaki gunung. "Baru setelah seseorang berdiri di puncak gunung, orang dapat melihat mana jalan tersederhana dan tersingkat untuk menuju ke puncak. Hal seperti itu juga berlaku bagi mereka yang terlibat pengambilan keputusan pada tahun 40-an. Baru belakangan terlihat bahwa perpisahan Indonesia-Belanda terlalu berlarut-larut dan dengan diiringi banyak kekerasan militer melebihi seharusnya. Untuk itu saya atas nama pemerintah Belanda akan menyampaikan permohonan maaf di Jakarta," tekad Bot.

"Dalam hal ini saya mengharapkan pengertian dan dukungan dari masyarakat Hindia (angkatan Hindia Belanda), masyarakat Maluku di Belanda dan para veteran Aksi Polisionil," demikian Bot.



Pernyataan Pemerintah Belanda di Jakarta

Selain itu Belanda sesalkan siksa Rakyat Indonesia pasca 17-8-1945, akhirnya mengakui Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Belanda pun mengakui tentaranya telah melakukan penyiksaan terhadap rakyat Indonesia melalui agresi militernya pasca proklamasi.

"Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya atas terjadinya semuanya ini," begitulah kata Menlu Bernard Bot dalam pidato resminya kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Menlu Hassan Wirajuda, di ruang Nusantara, Gedung Deplu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat. "Fakta adanya aksi militer merupakan kenyataan sangat pahit bagi rakyat Indonesia. Atas nama pemerintah Belanda saya ingin menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya atas semua penderitaan ini," kata Menlu Belanda Bernard Bot kepada wartawan dalam pidato kenegaraan tersebut, hari Selasa 16 Agustus 2005.

Bot tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung, hanya berupa bentuk penyesalan. Ketika ditanya mengenai hal ini, Bot menjawab diplomatis. "Ini masalah sensitif bagi kedua negara. Pernyataan ini merupakan bentuk penyesalan yang mendalam. Kami yakin pemerintah Indonesia dapat memahami artinya," kilah Bot.

Bot mengakui, kehadiran dirinya merupakan pertama kali sejak 60 tahun lalu di mana seorang kabinet Belanda hadir dalam perayaan kemerdekaan. "Dengan kehadiran saya ini, pemerintah Belanda secara politik dan moral telah menerima proklamasi yaitu tanggal RI menyatakan kemerdekaannya," tukas pria kelahiran Batavia (Jakarta) ini.

Pasca proklamasi, lanjut Bot, agresi militer Belanda telah menghilangkan nyawa rakyat Indonesia dalam jumlah sangat besar. Bot berharap, meski kenangan tersebut tidak pernah hilang dari ingatan rakyat Indonesia, jangan sampai hal tersebut menjadi penghalang rekonsiliasi antara Indonesia dan Belanda.

Meski menyesali penjajahan itu, Belanda tidak secara resmi menyatakan permintaan maaf. Indonesia pun tidak secara resmi menyatakan memaafkan Belanda atas tiga setengah abad penjajahannya.

Pidato ini dilakukan dalam rangka pesan dari pemerintah Belanda terkait peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 RI. Turut hadir Menlu Hassan Wirajuda, Jubir Deplu Marty Natalegawa, dan sejumlah mantan Menlu. Dari pihak Belanda, hadir Dubes Belanda untuk Indonesia dan disaksikan para Dubes dari negara-negara sahabat.



Sikap Pemerintah Indonesia

Menlu Hassan pun hanya mengatakan,"Kami menerima pernyataan penyesalan dari pemerintah Belanda". Saat ditanya apakah dengan menerima penyesalan dari pemerintah Belanda berarti Indonesia memaafkan kejahatan Belanda semasa penjajahan dulu, Hassan tidak membenarkan dan tidak membantahnya. "Kita sudah dengar sendiri dari Menlu Bot. Ini adalah pernyataan yang sensitif. Di Belanda pun untuk menyatakan penyesalan ini menjadi perdebatan sejumlah pihak. Kita harus menghargai sikap Belanda," tutur Hassan.

Acara yang dimulai pukul 19.30 ini berakhir pada pukul20.15 WIB. Usai menyampaikan pidatonya, kedua Menlu ini saling memotong tumpengannasi kuning sebagaitanda dimulainya babak baru hubungan Indonesia dan Belanda

Jika anda ingin dalam format MS-Word nya, dapat di  download DISINI